Berita

Vale Indonesia Siapkan 19 Kolam Pengendap, Antisipasi Dampak Musim Hujan di Pomalaa

Ekspospedia  – PT Vale Indonesia Tbk terus memperkuat sistem pengelolaan air dan perlindungan lingkungan di kawasan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi dampak peningkatan curah hujan, sekaligus meminimalkan risiko erosi, sedimentasi, genangan, hingga banjir di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Perusahaan yang merupakan bagian dari holding industri pertambangan MIND ID tersebut mempercepat pembangunan sejumlah infrastruktur pengendalian air, termasuk kolam pengendap atau sediment pond di titik-titik strategis kawasan proyek.

Head of Pomalaa Project Vale Indonesia, Mohammad Rifai, mengatakan penguatan infrastruktur tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, terutama menghadapi potensi cuaca ekstrem.

Menurutnya, evaluasi terus dilakukan terhadap sistem pengelolaan air, termasuk menyempurnakan aspek teknis berdasarkan kondisi lapangan dan pengalaman menghadapi curah hujan ekstrem sebelumnya.

“Kami berkomitmen tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan. Untuk itu, kami terus melakukan penyempurnaan sistem pengelolaan air dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, potensi cuaca ekstrem, serta evaluasi berkala,” ujar Rifai.

Ia menjelaskan, berdasarkan evaluasi terhadap kejadian hujan ekstrem sebelumnya yang sempat memicu luapan pada sejumlah pocket pond atau kolam penampung berkapasitas kecil, perusahaan terus melakukan perbaikan teknis dan meningkatkan pengawasan.

Hingga saat ini, Vale Indonesia telah membangun 16 unit sediment pond, sementara tiga unit lainnya masih dalam tahap konstruksi.

Kolam pengendap tersebut berfungsi menampung limpasan air hujan sekaligus memberikan waktu bagi material sedimen untuk mengendap sebelum air dialirkan secara terkendali sesuai standar pengelolaan lingkungan.

Untuk mendukung operasional fasilitas tersebut, perusahaan juga mendistribusikan jaringan listrik berkapasitas 5 Megawatt (MW) ke sejumlah titik strategis proyek, termasuk kawasan kolam pengendap. Infrastruktur kelistrikan ini diharapkan dapat menunjang optimalisasi sistem pengelolaan air, terutama saat debit air meningkat akibat hujan berintensitas tinggi.

Selain pembangunan infrastruktur, Vale Indonesia juga melakukan pemantauan kualitas lingkungan secara berkala, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Huko-Huko dan Sungai Oko-Oko, Kecamatan Pomalaa.

Pengambilan sampel air dilakukan secara terjadwal di sejumlah area tangkapan air sekitar wilayah operasional untuk mendeteksi potensi peningkatan sedimentasi sejak dini. Langkah ini sekaligus menjadi upaya mencegah dampak terhadap ekosistem sungai dan lahan pertanian masyarakat.

Rifai menambahkan, penguatan infrastruktur pengendalian air juga diharapkan dapat memperlancar aliran air menuju laut serta mengurangi risiko genangan dan banjir di kawasan permukiman.

Dalam menghadapi kemungkinan cuaca ekstrem, perusahaan turut menyiagakan tim Fire and Emergency Services (FES). Tim tersebut bertugas melakukan pemantauan lapangan, mendata dampak kejadian, serta mendukung penanganan awal apabila terjadi kerusakan tanggul.

Tim FES juga disiapkan untuk membantu penyaluran logistik apabila hujan ekstrem berdampak terhadap desa-desa di sekitar wilayah proyek.

Upaya tersebut diperkuat melalui koordinasi dengan pemerintah dan perangkat daerah terkait, termasuk pembenahan fasilitas umum di kawasan aliran sungai dan pesisir Kecamatan Pomalaa yang rentan terdampak cuaca ekstrem.

Pembenahan mencakup perbaikan saluran drainase, tanggul, serta jalan lingkungan guna mendukung kelancaran aliran air dan mengurangi potensi dampak banjir.

Tidak hanya mengandalkan infrastruktur fisik, Vale Indonesia juga mengembangkan solusi berbasis alam untuk memperkuat ketahanan lingkungan dalam jangka panjang.

Salah satunya melalui pengoperasian Fasilitas Persemaian Modern (nursery) di Kecamatan Tanggetada yang pembangunannya telah rampung 100 persen. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hingga satu juta bibit per tahun untuk mendukung program penghijauan dan reklamasi.

Penanaman vegetasi secara bertahap diharapkan mampu memperkuat tutupan lahan, menekan laju erosi, serta meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air secara alami.

Melalui berbagai langkah tersebut, Vale Indonesia berupaya memperkuat sistem pengelolaan air dan ketahanan lingkungan di kawasan IGP Pomalaa, sekaligus meminimalkan potensi dampak musim penghujan terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitar wilayah proyek.(***)
















Related Articles

Back to top button